+6289-689-450-466

Jumat, 02 Oktober 2015

mujahiddesert2ux0
KALIMAT-kalimatnya menyerbu hati orang-orang Anshar. Suaranya bak lentera yang mengusir kegelapan syirik. Dia adalah Mush’ab al-Khair, salah seorang pendekar keimanan.
Ia seorang pemuda Quraisy yang hidup manja dan mulia di tengah keluarganya. Dia menyatukan antara penampilan yang elok dan akal yang cemerlang. Apa yang dimakan dan dipakainya di pagi hari tidak sama dengan apa yang dimakan dan dipakainya di sore hari.
Kalimat-kalimat iman menembus telinganya dan bersemayam di hatinya, sehingga ia menyatakan keislamannya. Memasuki rumah Arqam dan menemui Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi. Kemudian keluarganya mengetahuinya, sehingga mereka mengikat dan menahannya. Lalu di kabur bersama Muhajirin ke Habsyah, pulang ke Makkah, kemudian hijrah ke Madinah.
Dia berkulit lembut tidak tinggi dan tidak pendek. Dia adalah delegasi pertama dalam Islam, dan orang pertama yang mengumpulkan jamaah di Madinah.
Beliau meninggalkan kehidupan yang nikmat kepada kehidupan sederhana dan kemiskinan. Serta memakai pakaian paling kasar. Kezuhudannya memberikan kesan di hati orang-orang Anshar.
Suatu hari Nabi SAW duduk bersama para sahabat untuk menyirami hati mereka dengan tutur katanya. Dalam kondisi demikian datanglah Mush’ab bin Umair ra. dengan memakai pakaian bertambal sulam dan using. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau kasihan dan iba.
***
Abdurrahman bin Auf pernah diberi makanan. Saat makanan itu ditaruh di depannya, dia menangis keras. Kemudian dia berkata sambil mengatur napas yang tersengal-sengal, “Mush’ab terbunuh pada perang Uhud, namun kami tidak menemukan kain untuk mengafaninya. Saat itu dia memakai namirah. Bila kami tutupi kepalanya, maka kedua kakinya tampak. Jika kami tutupi kakinya, maka kepalanya tampak. Lalu Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi kepalanya dengan pakaian itu, dan menutupi kedua kakinya dengan daun phon idzkhar”
Mush’ab adalah symbol keberanian dan pengorbanan. Dia memiliki dua tangan: satu tangan untuk membawa bendera dan satu tangan lainnya untuk menyabetkan pedang. Ketika perang Uhud dia membawa bendera dengan tangan kanannya.
Ketika tangan kanannya putus, maka dia membawanya dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya putus, maka ia membawanya di antara dua lengannya pada dadanya. Lalu Ibnu Qami’ah menyerangnya dan menusuknya dengan tombak hingga tembus tubuhnya yang suci. Innalillahi.
Sumber: 100 Tokoh Zuhud/penulis: Muahammad Shidiq al-Misyawi/Penerbit: Senayan Publishing

Kamis, 26 Maret 2015





Udah lama admin gak update, sekarang admin mau update cerita si abu nawas.. Abu Nawas kali ini mendapatkan tantangan untuk membagi lima telur untuk dibagikan kepada tiga orang tanpa harus pecah. Namun, bukanlah Abu Nawas jika tidak mampu memecahkan persoalan yang sulit seperti ini.

Berikut Kisahnya

Alkisah, pada suatu hari, tiba-tiba saja raja merasakan rindu untuk bertemu dengan Abu Nawas. Namun, raja ingin menemui Abunawas di rumahnya, bukan di istana.
"Wahai pengawal, hari ini aku ingin ke rumah Abu Nawas. Sekarang juga kamu ambil kuda yang terbaik, "titah Raja Harun Ar-Rasyid.

Pengawal itu pun meminta penjaga kuda menyiapkan kuda yang terbaik dan dipilihlah kuda yang berwarna putih nan gagah dan terlihat sangat sehat sekali.

Setelah kuda putih itu siap, sang raja langsung menungganginya. Dengan gagah, sang Raja memasuki kota, sang raja menemukan pemandangan bagus. Kota dengan tatanan bangunan yang rapi serta jalanan yang halus.

Tak lama kemudian, rombongan raja sudah hampir sampai mendekati rumah Abu Nawas. Namun Abu Nawas sebenarnya sudah mengetahui akan didatangi oleh raja, info diperoleh dari tetangganya. Untuk itu, Abu Nawas keluar rumah untuk menyambut raja.

Abu Nawas Menyamar Jadi Dewa Bumi

Abu Nawas keluar rumah dengan melilitkan handuk di kepalanya. Ia duduk di pinggir jalan melihat arak-arakan sang raja. Raja tertarik dengan sosok lelaki yang berikat kepala handuk itu dan memerintahkan prajuritnya untuk membawa Abunawas ke hadapannya.

"Siapa kamu?" tanya raja.
"Saya ini Dewa Bumi, "jawab Abu Nawas dengan tenang.
"Nah, lantaran kamu Dewa Bumi, tentunya kamu bisa membesarkan mata prajuritku yang sipit ini. Kalau kamu tidak bisa, kamu akan dihukum pancung, "kata raja.
"Ha..., kalau begitu Baginda ini tidak memahami yang aku maksudkan. Aku ini Dewa Bumi dan bukan Dewa langit. Kalau memang Baginda menginginkan agar mata prajurit Baginda yang sipit itu jadi besar, seharusnya Baginda meminta pertolongan kepada Dewa Langit, karena dialah yang mengurus segala masalah dari pusar ke atas, "jawab Abu Nawas.

"Jika Baginda meminta pertolongan kepadaku, urusanku adalah segala yang berkaitan dengan bagian pusar ke bawahkarena aku ini Dewa Bumi, "jelas Abu Nawas lebih lanjut.

Setelah itu, Raja Harun berbincang dengan Abu Nawas beberapa lamanya. Raja sangat terkesan akan kecerdasan yang dimiliki Abu Nawas. Setelah puas berbincang-bincang, Abu Nawas pun diperbolehkan pulang. Namun, beberapa hari kemudian sang raja memerintahkan prajuritnya untuk membawa Abu Nawas ke hadapannya.

Lima Telur untuk Tiga Orang

Salah seorang diantara selir raja telah merebus lima butir telur dan raja mengundang Abu Nawas untuk makan bersama. 
"Aku ingin agar kamu yang membagi lima telur ini secara adil dan tanpa harus memecahkan untuk kita bertiga, "kata Raja Harun.

Tanpa ragu-ragu sama sekali, Abu Nawas mengambil lima butir telur tersebut dan berkata,
"Yang Mulia, ini sebutir untuk Baginda sebab Baginda sudah mempunyai dua butir. Saya juga sebutir. Sedangkan yang tiga butir ini untuk istri Baginda, sebab dia tidak punya sebutir pun di bawahnya."

Sejenak raja terdiam, sejurus kemudian Baginda tertawa ngakak dan baru mengerti perkataan Abu Nawas itu. Jawaban Abu Nawas itu menggembirakan hati raja dan setelah makan telur, Abu Nawas diperintahkan untuk pulang dan diberi hadiah.